Matt Korda, seorang direktur asosiasi di Federation of American Scientists, telah menguraikan potensi masa depan untuk pengendalian senjata nuklir di tengah ketiadaan perjanjian tradisional. Dalam sebuah laporan berjudul "Inspections Without Inspectors," Korda dan penulis bersama Igor Morić mengusulkan metode yang disebut "cooperative technical means" untuk memantau persenjataan nuklir menggunakan satelit dan teknologi penginderaan jauh alih-alih inspeksi di lapangan.
Korda menekankan bahwa kecerdasan buatan dapat meningkatkan proses pemantauan ini, terutama melalui kemampuannya untuk mengenali pola. Ia mencatat bahwa dengan dataset yang cukup besar dan terorganisir dengan baik, AI secara teoritis dapat mengidentifikasi perubahan halus di lokasi tertentu dan bahkan membedakan antara berbagai jenis sistem senjata. Ini terjadi seiring dengan berakhirnya perjanjian New START, yang sebelumnya membatasi kemampuan nuklir AS dan Rusia.
Meskipun perjanjian tersebut telah berakhir, kedua negara dilaporkan tetap mempertahankan status nuklir mereka saat ini. Namun, lanskap geopolitik sedang berubah, dengan negara-negara seperti China memperluas kemampuan misil mereka dan Korea Selatan mempertimbangkan opsi nuklir. Dalam konteks ini, Korda dan Morić mengusulkan pemanfaatan infrastruktur satelit yang ada untuk menegakkan perjanjian pengendalian senjata baru tanpa memerlukan inspeksi yang mengganggu di wilayah kedaulatan.
Para penulis mengakui bahwa meskipun usulan mereka tidak sempurna, itu merupakan perbaikan dibandingkan dengan kurangnya pemantauan yang efektif saat ini. Secara historis, AS dan Rusia telah bekerja untuk mengurangi persenjataan nuklir secara signifikan, tetapi pembubaran New START menandakan kemunduran dalam kepercayaan dan kerja sama yang telah dibangun selama beberapa dekade. Visi Korda melibatkan jalan tengah di mana negara-negara dapat berkolaborasi dalam verifikasi jarak jauh tanpa perlu adanya inspektur fisik.
Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait dengan kerja sama yang diperlukan dari kekuatan nuklir untuk menerapkan sistem semacam itu. Sistem AI perlu dilatih pada dataset spesifik untuk setiap negara, yang menghadirkan hambatan logistik. Para ahli seperti Sara Al-Sayed dari Union of Concerned Scientists menyoroti kompleksitas dalam menciptakan sistem pemantauan AI yang dapat diandalkan dan potensi jebakan dari mengandalkan teknologi yang belum sepenuhnya dapat dipercaya. Pada akhirnya, meskipun ide menggunakan AI dan satelit untuk pemantauan nuklir menarik, hal ini menimbulkan pertanyaan signifikan tentang masa depan pengendalian senjata di tengah lanskap global yang semakin terfragmentasi.