Coca-Cola sedang mengubah pendekatan pemasarannya dari bergantung pada kenaikan harga menjadi fokus pada strategi persuasif, yang menunjukkan integrasi yang lebih dalam dari AI ke dalam pemasaran korporatnya. Diskusi terbaru di antara eksekutif perusahaan mengungkapkan bahwa Coca-Cola memasuki fase baru di mana pengaruh lebih diutamakan daripada kekuatan harga. Perubahan ini didorong oleh meredanya tekanan inflasi dan kebutuhan akan strategi inovatif untuk mempertahankan pertumbuhan pendapatan.

Untuk meningkatkan upaya pemasarannya, Coca-Cola memperluas peran AI dalam proses produksi dan pengambilan keputusan. Perusahaan telah mulai bereksperimen dengan AI generatif dalam kampanye kreatifnya dan secara aktif menguji bagaimana otomatisasi dapat memperlancar pembuatan konten, perencanaan kampanye, dan distribusi. Ini mencerminkan tren yang lebih luas di industri di mana alat AI semakin terintegrasi ke dalam alur kerja pemasaran.

Menurut analisis industri, Coca-Cola telah memanfaatkan AI untuk menghasilkan gambar, membantu dalam penceritaan, dan memodifikasi kampanye di berbagai saluran. Laporan terbaru menunjukkan bahwa perusahaan saat ini sedang menguji sistem AI yang dirancang untuk mengotomatiskan bagian dari proses periklanan, seperti menyusun naskah dan menyiapkan konten media sosial. Meskipun inisiatif ini masih dalam fase pengujian, mereka menyoroti pergerakan menuju saluran pemasaran yang lebih otomatis, mengurangi ketergantungan pada agensi tradisional dan siklus kreatif yang panjang.

Karena banyak perusahaan barang konsumen telah bergantung pada kenaikan harga untuk mengatasi biaya yang meningkat selama dua tahun terakhir, para analis mencatat bahwa strategi ini memiliki batasan seiring dengan melambatnya inflasi di beberapa pasar. Pertumbuhan kini bergantung pada persuasi konsumen untuk melakukan pembelian yang lebih sering atau memilih produk dengan margin yang lebih tinggi. AI menawarkan peluang untuk meningkatkan persuasi ini secara besar-besaran dengan memanfaatkan data untuk menyesuaikan pesan, menargetkan audiens, dan menyesuaikan kampanye secara real-time.

Strategi Coca-Cola sejalan dengan tren yang lebih luas dalam teknologi pemasaran, di mana alat AI generatif dengan cepat beralih dari eksperimen ke penggunaan reguler di perusahaan besar. Survei terbaru McKinsey menunjukkan bahwa sekitar sepertiga organisasi telah mengadopsi AI generatif dalam setidaknya satu fungsi bisnis, dengan pemasaran dan penjualan menjadi salah satu area yang paling umum. Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring perusahaan mengeksplorasi otomatisasi dalam tugas kreatif dan keterlibatan pelanggan. Pendekatan Coca-Cola menunjukkan bahwa AI bukan sekadar alat penghemat biaya, tetapi elemen kunci dalam membentuk permintaan konsumen dan meningkatkan efektivitas pemasaran.