Kondisi cuaca ekstrem saat ini di AS telah memberikan tekanan besar pada industri penerbangan, yang mengakibatkan perubahan signifikan dalam jadwal dan rute penerbangan yang juga mempengaruhi operasi global. Selama gangguan seperti ini, maskapai harus merespons pertanyaan pelanggan dengan tingkat yang jauh lebih tinggi dari biasanya, sambil juga membuat keputusan operasional cepat dalam protokol keselamatan yang ketat.
Untuk mengatasi tantangan ini, beberapa maskapai beralih ke AI generatif sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi dan responsivitas. Misalnya, Air France-KLM telah mengembangkan 'pabrik' AI generatif berbasis cloud yang memungkinkan pengembangan AI yang konsisten dan dapat digunakan kembali di seluruh organisasi. Inisiatif ini, bekerja sama dengan Accenture dan Google Cloud, dilaporkan telah meningkatkan kecepatan pengembangan lebih dari 35% dan telah berperan penting dalam meningkatkan operasi darat, rekayasa, pemeliharaan, dan layanan pelanggan.
Pabrik AI ini dibangun di atas upaya sebelumnya untuk memigrasi aplikasi inti ke cloud dan telah menghasilkan penciptaan asisten AI pribadi dan alat yang menghubungkan model bahasa besar (LLM) dengan fungsi pencarian internal. Karyawan dilatih untuk memanfaatkan alat AI ini secara efektif, sehingga memanfaatkan kekuatan LLM untuk memberikan dampak positif pada bisnis.
Demikian pula, United Airlines sedang menjajaki AI untuk menyederhanakan operasinya. Menurut CIO Jason Birnbaum, AI membantu memperpendek siklus pengambilan keputusan selama operasi tidak teratur, seperti yang disebabkan oleh cuaca dingin ekstrem. Inisiatif AI maskapai ini dimulai dengan meningkatkan respons terhadap pertanyaan penumpang selama penundaan dan pembatalan penerbangan, memungkinkan perwakilan layanan pelanggan untuk menjaga komunikasi yang efektif sambil mematuhi gaya pesan yang telah ditetapkan perusahaan.
Birnbaum mencatat pentingnya menggunakan AI untuk menghasilkan pesan pelanggan berdasarkan data penerbangan waktu nyata dan kondisi cuaca. Dengan fokus pada situasi yang paling berdampak dan menerapkan rekayasa prompt, model AI belajar untuk berkomunikasi dengan cara yang sesuai dengan preferensi pesan United Airlines, termasuk menekankan keselamatan tanpa menimbulkan kepanikan. Penilaian Boston Consulting Group tentang kematangan AI di industri penerbangan menunjukkan bahwa meskipun maskapai telah meningkat, hanya satu dari 36 yang disurvei yang sepenuhnya siap untuk masa depan yang didorong oleh AI. Analisis tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2030, maskapai yang mengintegrasikan AI ke dalam operasi inti mereka dapat melihat margin operasi meningkat sebesar 5% hingga 6% dibandingkan dengan pesaing mereka. Seiring AI generatif menjadi semakin sentral dalam operasi maskapai, diharapkan dapat meningkatkan pengambilan keputusan terkait jadwal, alokasi kru, dan pemulihan penumpang, yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi operasional dan kepuasan pelanggan.