Sebuah studi internasional yang komprehensif tentang dampak kecerdasan buatan (AI) di tingkat perusahaan telah dirilis, mengungkapkan pandangan yang lebih positif daripada yang banyak diperkirakan. Penelitian ini, yang mensurvei hampir 6.000 eksekutif di empat negara, menunjukkan bahwa AI telah menyebabkan perubahan yang modest dalam produktivitas dan pekerjaan selama tiga tahun terakhir. Dampak terbatas ini disebabkan oleh tahap awal penerapan AI daripada kegagalan teknologi itu sendiri.

Dilakukan oleh tim dari Federal Reserve Bank of Atlanta, Bank of England, Deutsche Bundesbank, dan Universitas Macquarie, studi ini menemukan bahwa lebih dari 90% perusahaan melaporkan tidak ada perubahan signifikan dalam jumlah karyawan akibat AI dalam tiga tahun terakhir. Efek bertahap ini sejalan dengan tren historis yang diamati dengan teknologi tujuan umum, di mana dampak transformatif biasanya muncul dalam jangka waktu yang lebih lama.

Adopsi AI sangat luas, dengan sekitar 69% perusahaan menggunakan beberapa bentuk teknologi AI. Aplikasi yang paling umum termasuk generasi teks berbasis model bahasa besar (41%), pembelajaran mesin untuk pemrosesan data (28%), dan pembuatan konten visual (29%). Di Inggris, tingkat adopsi meningkat dari 61% menjadi 71% pada tahun 2025, menunjukkan bahwa alat AI semakin terintegrasi ke dalam alur kerja sehari-hari. Meskipun dampak langsung mungkin tertinggal di belakang adopsi, tren keseluruhan tampaknya meningkat.

Melihat ke depan, eksekutif optimis tentang potensi efek AI selama tiga tahun ke depan, memprediksi peningkatan produktivitas rata-rata sebesar 1,4% dan kenaikan output sebesar 0,8%. Secara khusus, eksekutif AS memperkirakan peningkatan produktivitas sebesar 2,25%, sementara perusahaan Inggris mengharapkan peningkatan sebesar 1,86%. Mengingat pertumbuhan produktivitas yang lemah yang terus berlanjut di banyak ekonomi, proyeksi ini, meskipun modest, dapat menyebabkan perbaikan signifikan ketika digabungkan di berbagai sektor.

Di sisi pekerjaan, eksekutif memperkirakan sedikit pengurangan sekitar 0,7% dalam jumlah karyawan di keempat negara, terutama karena perlambatan perekrutan daripada pemecatan. Ini menunjukkan pergeseran bertahap dalam peran pekerjaan daripada kehilangan pekerjaan secara mendadak. Seperti pada kemajuan teknologi sebelumnya, angka keseluruhan mungkin tidak memperhitungkan penciptaan pekerjaan baru di bidang seperti tata kelola data dan pengembangan layanan AI. Studi ini juga menyoroti ketimpangan antara harapan eksekutif dan karyawan mengenai dampak AI terhadap pekerjaan dan produktivitas, mencerminkan perspektif yang berbeda tentang integrasi teknologi ke dalam tempat kerja.