Jam Kiamat, yang didirikan pada tahun 1947 selama Perang Dingin, berfungsi sebagai indikator simbolis seberapa dekat umat manusia dengan bencana global, dengan tengah malam mewakili titik tanpa kembali bagi kelayakhunian Bumi. Baru-baru ini, jam tersebut disesuaikan menjadi 85 detik menuju tengah malam, sebuah perubahan dari 89 detik sebelumnya, mencerminkan kurangnya kemajuan dalam menangani isu-isu global kritis seperti ancaman nuklir, perubahan iklim, bahaya biologis, dan informasi yang salah. Menurut Bulletin of the Atomic Scientists (SABS), setiap momen ketidakaktifan meningkatkan risiko bencana dunia.
Meskipun ada peringatan ini, negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China telah memperkuat sikap agresif dan nasionalis mereka tahun ini. Presiden SABS, Daniel Holz, menyatakan bahwa bahaya yang meningkat terkait dengan risiko nuklir, perubahan iklim, dan teknologi yang muncul, ditambah dengan kebangkitan otokrasi nasionalis, menimbulkan ancaman signifikan bagi stabilitas global. Ia menekankan bahwa tantangan mendesak yang kita hadapi memerlukan kolaborasi internasional daripada perpecahan.
Laporan SABS menyoroti kurangnya kepemimpinan yang mengkhawatirkan seiring meningkatnya ancaman global. Laporan tersebut mencatat bahwa perjanjian global yang telah ada semakin memburuk, yang mengarah pada suasana kompetitif di antara negara-negara kuat yang merusak kerjasama penting yang diperlukan untuk mengurangi risiko terkait perang nuklir, perubahan iklim, dan penyalahgunaan bioteknologi. Banyak pemimpin telah menjadi puas diri, mengadopsi kebijakan yang memperburuk daripada meringankan ancaman eksistensial ini.
Sementara Jam Kiamat berfungsi sebagai pengingat yang tajam tentang keadaan dunia yang tidak menentu, ia juga menandakan bahwa masih ada kesempatan untuk bertindak. Misalnya, Amerika Serikat dan Rusia dapat memulai kembali negosiasi untuk membatasi persenjataan nuklir mereka, dan perjanjian internasional dapat dibentuk untuk mencegah penyalahgunaan kecerdasan buatan dalam menciptakan ancaman biologis. Selain itu, Kongres dapat memberikan insentif untuk transisi cepat dari bahan bakar fosil, sementara diskusi antara AS, Rusia, dan China dapat fokus pada pedoman untuk mengintegrasikan AI ke dalam operasi militer, terutama terkait dengan sistem komando nuklir.
Para ahli mendesak para pemimpin nasional, terutama dari AS, Rusia, dan China, untuk mengambil tindakan tegas untuk mencegah bencana. Mereka menekankan bahwa warga negara harus menuntut akuntabilitas dan langkah-langkah proaktif dari pemimpin mereka untuk memastikan masa depan yang lebih aman.