Dalam acara Big Interview WIRED, Jon M. Chu, sutradara film yang sangat dinantikan 'Wicked: For Good,' terlibat dalam percakapan mendalam dengan editor budaya senior Manisha Krishnan. Mereka mengeksplorasi tantangan dan keberhasilan dalam membuat film blockbuster di lanskap film yang cepat berubah saat ini. Diskusi ini menyoroti perjalanan Chu dengan 'Wicked,' yang telah menjadi fenomena budaya sejak awalnya.
Chu merenungkan akarnya di Silicon Valley dan bagaimana latar belakangnya membentuk visi kreatifnya. Ia menekankan pentingnya penceritaan dan perspektif unik yang ia bawa ke 'Wicked,' sebuah proyek yang telah ia dedikasikan selama lebih dari lima tahun. Sutradara ini mengungkapkan rasa tanggung jawab untuk menghormati materi asli sambil juga membayangkannya kembali untuk audiens kontemporer. Ia berbagi bagaimana film ini mendekonstruksi narasi klasik 'Wizard of Oz,' menawarkan perspektif baru yang beresonansi dengan pengalamannya sendiri.
Percakapan ini juga menyentuh peran yang berkembang dari influencer dan media sosial dalam mempromosikan film. Chu mencatat pergeseran signifikan dalam strategi pemasaran dari karya-karya sebelumnya, seperti 'Crazy Rich Asians,' hingga sekarang. Ia mengakui bahwa platform seperti podcast dan media sosial telah menjadi penting dalam melibatkan audiens dan mendorong penjualan tiket. Ia mengenang pengalamannya dengan pemasaran viral dan bagaimana hal itu telah mengubah cara film dipromosikan.
Saat mereka membahas hubungan emosional yang terbentuk selama pembuatan 'Wicked,' Chu mengungkapkan ikatan yang ia kembangkan dengan aktris utama Ariana Grande dan Cynthia Erivo. Ia menggambarkan proses kolaboratif yang intens dan tantangan yang dihadapi saat menciptakan film yang menghormati materi sumbernya sambil juga menarik bagi audiens modern. Sutradara ini menekankan pentingnya keaslian dan kedalaman emosional yang muncul dari pengalaman bersama selama produksi.
Akhirnya, percakapan beralih ke peran AI dalam pembuatan film. Chu mengungkapkan pandangan yang nuansa tentang teknologi ini, mengakui baik manfaat potensial maupun kekhawatiran etisnya. Ia menyoroti pentingnya kreativitas dan insting manusia dalam proses pembuatan film, menyarankan bahwa meskipun AI dapat menjadi alat, ia tidak dapat menggantikan sentuhan manusia yang unik yang menghidupkan cerita. Saat diskusi ditutup, semangat Chu untuk penceritaan dan komitmennya terhadap representasi dalam sinema bersinar, meninggalkan pendengar dengan pemahaman yang lebih dalam tentang kompleksitas yang terlibat dalam pembuatan film modern.