Selama acara Big Interview WIRED di San Francisco, Jon M. Chu, yang dikenal karena menyutradarai Crazy Rich Asians, berbagi wawasan tentang proses pembuatan film, terutama terkait dengan karyanya di Wicked: For Good. Ia merenungkan pengalamannya dengan artis seperti Justin Bieber, menyoroti bagaimana keterlibatan dengan penggemar secara online dapat membentuk narasi sebuah proyek bahkan sebelum syuting dimulai. Chu menceritakan bagaimana penggunaan Twitter oleh Bieber untuk terhubung dengan penggemar secara signifikan meningkatkan pengikutnya secara online, menekankan pentingnya keterlibatan langsung dengan audiens.
Chu menjelaskan bahwa investasi emosional yang dimiliki penggemar terhadap Wicked dan sekuelnya berasal dari hubungan kuat yang terbentuk di antara para pemeran selama produksi. Ia membandingkan ikatan antara bintang Ariana Grande dan Cynthia Erivo dengan para pengembang teknologi di Silicon Valley, yang sering bekerja sama di bawah tekanan untuk mencapai hasil yang sukses. Kebersamaan ini telah menjadi kunci dalam pemasaran dan promosi film, karena hal ini beresonansi dengan audiens.
Merenungkan akarnya di Bay Area, Chu mengungkapkan rasa syukur atas komunitas teknologi yang mendukung minat awalnya dalam pembuatan film. Ia berbagi bagaimana para patron yang paham teknologi di restoran orang tuanya memberinya komputer dan perangkat lunak, yang memberinya keuntungan dalam studinya di University of Southern California. Chu merasa memiliki tanggung jawab kepada dunia teknologi yang membantu membentuk kariernya.
Sementara Chu mengakui potensi AI dalam pembuatan film, terutama untuk pengorganisasian data dan pengumpulan informasi, ia menghargai spontanitas yang muncul dari bekerja dengan aktor langsung dan set praktis. Ia percaya bahwa kemampuan untuk berimprovisasi di lokasi syuting menghasilkan momen yang autentik dan berkesan, berbeda dengan tindakan yang sudah diskenariokan yang bisa terasa dipaksakan.
Salah satu momen yang ia sebutkan adalah kedipan spontan dari karakter Erivo, Elphaba, yang menjadi ikonik. Chu menekankan bahwa jika ia menykenariokan tindakan itu, maka akan kehilangan pesona tulus yang membuatnya beresonansi dengan audiens. Ia menyimpulkan bahwa momen-momen tak terduga inilah yang membuat sinema dan seni benar-benar indah.