Pengungkapan terbaru dari dokumen Departemen Kehakiman menunjukkan bahwa Jeffrey Epstein diduga memiliki 'hacker pribadi.' Seorang informan memberi tahu FBI pada tahun 2017 tentang hacker ini, yang dilaporkan mengkhususkan diri dalam mengidentifikasi kerentanan dalam berbagai teknologi, termasuk iOS Apple dan perangkat BlackBerry. Meskipun identitas hacker tersebut tetap dirahasiakan, informan tersebut mengklaim bahwa mereka menjual alat hacking ke beberapa negara, termasuk pemerintah Afrika yang tidak disebutkan namanya dan Hezbollah, dengan jumlah uang yang substansial. Namun, keaslian klaim ini dan apakah FBI telah memverifikasinya masih belum pasti.
Dalam berita lain, asisten AI OpenClaw telah mendapatkan perhatian signifikan di Silicon Valley. Alat ini memungkinkan pengguna untuk mengotomatiskan berbagai tugas online dengan menghubungkan ke akun mereka, tetapi menimbulkan kekhawatiran serius tentang keamanan. Peneliti telah mengidentifikasi banyak kasus di mana pengguna secara tidak sengaja mengekspos sistem mereka karena kesalahan konfigurasi. Seiring dengan meningkatnya popularitas OpenClaw, para ahli memperingatkan bahwa kemampuannya dapat mengkompromikan langkah-langkah keamanan tradisional, karena memerlukan akses yang luas ke data pribadi dan akun online.
Sementara itu, otoritas China mengeksekusi 11 anggota keluarga kejahatan Ming, yang dihukum karena menjalankan komponen penipuan di Myanmar. Operasi ini dilaporkan telah menghasilkan miliaran melalui kerja paksa dan penipuan, dengan keluarga Ming sendiri menghasilkan $1,4 miliar dari aktivitas ilegal mereka selama delapan tahun terakhir. Penindakan ini mencerminkan upaya berkelanjutan China untuk memerangi kejahatan terorganisir yang terkait dengan penipuan ini.
Dalam insiden terpisah, seorang hacker muda dituduh mencuri $40 juta dalam cryptocurrency dari dana pemerintah yang disita. Investigasi menunjukkan bahwa John Daghita, putra seorang kontraktor yang mengelola aset ini, memanfaatkan posisinya untuk mengakses dan menyalahgunakan dana tersebut. Layanan Marshals AS saat ini sedang menyelidiki tuduhan ini.
Terakhir, Polandia telah mengaitkan serangan siber baru-baru ini pada jaringan energinya dengan kelompok hacker Rusia Berserk Bear. Kelompok ini telah dikaitkan dengan berbagai intrusi siber yang menargetkan infrastruktur kritis secara global. Pemerintah Polandia melaporkan bahwa para penyerang menggunakan malware destruktif tetapi tidak berhasil menyebabkan pemadaman listrik. Insiden ini menandai potensi pergeseran dalam pembatasan operasional kelompok tersebut, menimbulkan kekhawatiran tentang serangan di masa depan terhadap layanan penting.