Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah AS telah memperkenalkan subsidi yang bertujuan untuk menghidupkan kembali pembangkit batubara dan nuklir yang sedang berjuang, yang telah menghadapi tantangan dari gas alam yang lebih murah dan sumber energi terbarukan. Meskipun upaya ini, industri nuklir telah menghadapi hambatan signifikan, dengan tiga pembangkit ditutup sejak 2020 dan pembangunan reaktor baru dihentikan karena masalah politik. Sementara itu, pangsa batubara dalam campuran energi telah turun secara dramatis, dari 45% pada 2010 menjadi hanya 17% saat ini.
Namun, baik batubara maupun nuklir kini mendapatkan perhatian baru, terutama mengingat meningkatnya permintaan energi dari kecerdasan buatan (AI). Pemerintahan Trump telah melakukan upaya terkoordinasi untuk mempromosikan energi nuklir sebagai solusi untuk permintaan ini, menandatangani perintah eksekutif untuk memfasilitasi pembangunan sepuluh reaktor besar baru pada tahun 2030. Departemen Energi telah memulai program percontohan yang bertujuan untuk memajukan teknologi nuklir, yang telah menghasilkan hasil positif dari startup kecil.
Perusahaan teknologi juga berinvestasi dalam energi nuklir, dengan pemain besar seperti Google, Amazon, dan Microsoft membentuk kemitraan dengan perusahaan nuklir untuk memberi daya pada pusat data mereka. Microsoft bahkan mendukung pengoperasian kembali reaktor Three Mile Island yang terkenal, didukung oleh pinjaman federal yang signifikan. Dukungan publik untuk energi nuklir telah mencapai tingkat tertinggi sejak 2010, menunjukkan potensi perubahan persepsi.
Meskipun ada optimisme seputar energi nuklir, masa depan batubara tetap tidak pasti. Pemerintahan Trump telah berusaha untuk memperkuat peran batubara dalam sektor energi dengan memerintahkan beberapa pembangkit untuk tetap beroperasi dan melonggarkan regulasi polusi. Namun, analisis terbaru mengungkapkan bahwa banyak utilitas terbesar di AS secara aktif mengurangi ketergantungan mereka pada batubara, sering kali menggantinya dengan energi nuklir.
Sementara pemerintah mungkin lebih memilih sumber energi tertentu, dinamika pasar terus memainkan peran penting. Sumber energi terbarukan seperti solar dan angin tetap menjadi beberapa opsi yang paling hemat biaya yang tersedia, dan negara lain, terutama China, sedang membuat kemajuan signifikan dalam memperluas kemampuan energi terbarukan mereka. Saat AS menavigasi strategi energinya, mungkin perlu mempertimbangkan implikasi lebih luas dari pilihan-pilihannya dalam konteks persaingan global, terutama di bidang AI.