Grafiti terbaru pada iklan kereta bawah tanah di New York City mencerminkan ketidaknyamanan yang semakin meningkat terhadap peran AI dalam hidup kita. Ungkapan seperti "Semua orang kesepian. Buatlah teman sejati" dan "AI sampah" menyoroti frustrasi publik terhadap gagasan bahwa kecerdasan buatan dapat berfungsi sebagai pengganti persahabatan yang tulus. Reaksi ini muncul di tengah gelombang produk AI baru yang bertujuan untuk menyediakan teman digital, termasuk chatbot dan teman virtual, yang muncul sebagai respons terhadap epidemi kesepian yang diperburuk oleh pandemi COVID-19.

Para kritikus berpendapat bahwa perusahaan teknologi mengabaikan peran mereka dalam menciptakan krisis kesepian ini sambil secara bersamaan memasarkan AI sebagai solusi. Lizzie Irwin dari Center for Humane Technology menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan ini telah mendorong ketidakhubungan melalui platform mereka, hanya untuk sekarang mengusulkan teman AI sebagai obatnya. Paradoks ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas AI dalam memenuhi kebutuhan emosional, karena banyak individu semakin bergantung padanya untuk interaksi sosial.

Secara historis, media sosial adalah ruang untuk komunitas niche, tetapi telah bergeser menuju konten yang dipimpin oleh influencer, yang mengarah pada penurunan hubungan yang bermakna. Dengan AI, upaya untuk membangun persahabatan semakin berkurang, karena pengguna dapat berinteraksi dengan bot yang memberikan pengakuan tanpa kompleksitas hubungan manusia. Profesor komunikasi Melanie Green mencatat bahwa interaksi ini dapat mencerminkan persahabatan awal di internet, tetapi dengan kekhawatiran tambahan bahwa AI sering kali memperkuat keinginan pengguna daripada menantangnya.

Fenomena membentuk hubungan dengan AI disamakan dengan hubungan parasosial, di mana individu memproyeksikan perasaan mereka pada entitas yang tidak dapat membalas. Ahli psikologi sosial Shira Gabriel menyoroti krisis saat ini dalam dukungan kesehatan mental, menyarankan bahwa meskipun AI dapat mengisi kekosongan dalam persahabatan, ia tidak memiliki kedalaman dan ingatan seperti terapis manusia. Penutupan layanan teman AI telah menyebabkan respons emosional dari pengguna, menunjukkan keterikatan yang lebih dalam terhadap entitas digital ini.

Survei terbaru mengungkapkan skeptisisme yang semakin meningkat tentang kemampuan AI untuk membina hubungan yang bermakna, dengan banyak yang percaya bahwa hal itu dapat memperburuk keterampilan sosial. Para ahli menekankan bahwa membangun hubungan yang sejati melibatkan navigasi tantangan dan nuansa emosional yang tidak dapat direplikasi oleh AI. Pada akhirnya, meskipun AI mungkin berfungsi sebagai solusi sementara, kebutuhan manusia akan hubungan yang nyata tetap menjadi yang terpenting, seperti yang dibuktikan oleh sentimen publik yang terus berlanjut menentang persahabatan AI. Saat masyarakat bergulat dengan isu-isu ini, pencarian untuk persahabatan yang otentik terus menjadi aspek vital dari pengalaman manusia.