Laboratorium AI Barat mundur dari pengembangan open-source, memungkinkan pengembang China untuk memimpin dalam menyediakan model AI kuat yang disesuaikan untuk penerapan lokal pada perangkat keras standar. Sebuah studi keamanan oleh SentinelOne dan Censys telah memetakan 175.000 host AI yang terekspos di 130 negara, menunjukkan bahwa Qwen2 milik Alibaba menduduki peringkat kedua setelah Llama milik Meta dalam penerapan global. Secara mencolok, Qwen2 muncul di 52% sistem yang menjalankan beberapa model AI, menunjukkan statusnya sebagai alternatif utama untuk Llama.
Gabriel Bernadett-Shapiro, seorang ilmuwan riset AI di SentinelOne, memprediksi bahwa dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, keluarga model China akan semakin mendominasi ekosistem model bahasa besar (LLM) open-source, terutama karena laboratorium Barat membatasi rilis bobot terbuka mereka. Tren ini terjadi di tengah pengawasan regulasi dan tekanan komersial yang mendorong perusahaan seperti OpenAI, Anthropic, dan Google untuk membatasi akses publik ke model mereka.
Sebaliknya, laboratorium China bersedia menerbitkan bobot model besar berkualitas tinggi yang dioptimalkan untuk penggunaan lokal, membuatnya lebih mudah diadopsi dan diintegrasikan ke dalam berbagai lingkungan. Aksesibilitas ini memposisikan model seperti Qwen2 sebagai pilihan utama bagi peneliti dan pengembang yang ingin menjalankan AI kuat dengan anggaran terbatas.
Penelitian ini menyoroti bahwa Qwen2 mempertahankan kehadiran yang konsisten di berbagai metrik, menunjukkan adopsi global yang kuat tanpa fluktuasi signifikan. Ko-penerapan Llama dan Qwen2 sangat umum, muncul di lebih dari 40.000 host, yang menekankan ketergantungan yang semakin besar pada model-model ini.
Namun, studi ini juga mengangkat kekhawatiran tentang tata kelola model-model bobot terbuka ini. Kurangnya kontrol terpusat berarti bahwa setelah model dirilis, model tersebut dapat disalahgunakan tanpa akuntabilitas. Dengan hampir setengah dari host yang terekspos mampu mengeksekusi kode dan berinteraksi dengan sistem eksternal, potensi untuk penggunaan jahat sangat signifikan. Bernadett-Shapiro menekankan perlunya pengembang Barat untuk memikirkan kembali strategi rilis model mereka untuk mengelola risiko yang terkait dengan AI open-source secara efektif.