Transisi terbaru Walmart ke Nasdaq menandai pergeseran signifikan bagi pengecer senilai $905 miliar ini, yang kini memposisikan dirinya sebagai perusahaan yang didorong oleh teknologi, bukan sekadar pengecer diskon. Langkah ini mencerminkan ambisi Walmart untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengubah secara fundamental operasi ritel mereka, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas sebenarnya dari strategi ini di tengah hype pemasaran.

Berbeda dengan pesaingnya yang mengejar model bahasa besar yang umum, Chief Technology Officer Walmart, Hari Vasudev, menekankan pendekatan yang berbeda dengan apa yang mereka sebut 'AI agen yang dibangun untuk tujuan tertentu.' Strategi ini melibatkan pembuatan alat khusus yang dilatih pada data ritel milik Walmart, alih-alih mengandalkan solusi yang seragam. Vasudev menggambarkan metode ini sebagai 'bedah,' menunjukkan fokus pada tugas-tugas spesifik yang dapat diintegrasikan untuk mengelola alur kerja yang kompleks secara efektif.

Inisiatif AI Walmart telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Misalnya, sistem 'Trend-to-Product' telah berhasil mengurangi waktu produksi fashion sebesar 18 minggu, sementara Asisten Dukungan Pelanggan GenAI dapat secara mandiri mengelola masalah pelanggan tanpa intervensi manusia. Selain itu, platform MLOps milik Walmart, Element, meningkatkan efisiensi operasionalnya dengan mengoptimalkan penggunaan GPU di berbagai penyedia cloud, memberikan perusahaan keunggulan kompetitif.

Pengecer ini juga telah membagikan metrik pengembalian investasi tertentu, menunjukkan dampak AI pada operasinya. Misalnya, operasi data yang didorong oleh AI telah meningkatkan lebih dari 850 juta titik data katalog produk, sebuah tugas yang akan membutuhkan tenaga kerja yang jauh lebih banyak jika dilakukan secara manual. Selain itu, optimasi rute yang didukung AI telah mengarah pada pengurangan 30 juta mil pengiriman dan penurunan 94 juta pon emisi CO2, yang membuat Walmart diakui atas teknologi inovatifnya.

Meskipun kemajuan ini, CEO Walmart Doug McMillon telah mengakui potensi implikasi tenaga kerja dari AI. Ia menegaskan bahwa meskipun pekerjaan akan berkembang, total jumlah karyawan diharapkan tetap stabil, dengan fokus pada pelatihan ulang karyawan untuk peran baru. Perusahaan berkomitmen untuk memberikan peluang bagi tenaga kerjanya untuk beradaptasi dengan perubahan ini, menekankan bahwa AI akan mengubah pekerjaan daripada menghilangkannya.

Langkah strategis Walmart ke Nasdaq bukan hanya tentang posisi pasar; ini mencerminkan ambisi yang lebih luas untuk menetapkan standar baru dalam ritel omnichannel dengan mengintegrasikan otomatisasi dan AI. Namun, para analis tetap terbagi tentang apakah transformasi Walmart berkelanjutan atau jika berisiko terjebak dalam perangkap margin rendah seperti sebelumnya. Efektivitas strategi AI Walmart akan menjadi lebih jelas seiring waktu, tetapi investasi signifikan perusahaan dalam transformasi ini menunjukkan keyakinan yang kuat akan potensi keberhasilannya.