Sebuah pasar inovatif bernama Pharmaicy telah muncul, memungkinkan pengguna untuk membeli modul kode yang mensimulasikan efek obat seperti ganja, ketamin, kokain, ayahuasca, dan alkohol pada chatbot. Penciptanya, Ruddwall, mengembangkan modul-modul ini dengan menganalisis laporan perjalanan dan studi psikologis, bertujuan untuk membuat chatbot merespons seolah-olah mereka berada di bawah pengaruh. Diluncurkan pada bulan Oktober, Pharmaicy dibandingkan dengan Silk Road yang terkenal, tetapi untuk agen AI.
Konsep Ruddwall didasarkan pada ide bahwa chatbot, yang dilatih dengan data manusia yang luas, mungkin secara alami mencari pengalaman yang mirip dengan keadaan yang diinduksi oleh obat. Untuk memanfaatkan Pharmaicy sepenuhnya, pengguna harus berlangganan versi berbayar dari ChatGPT, yang memungkinkan unggahan file backend yang memodifikasi pemrograman chatbot. Dengan mengintegrasikan kode Ruddwall, pengguna dapat membuka versi AI yang lebih kreatif dan kurang terikat.
Sejauh ini, Ruddwall telah melihat jumlah penjualan yang modest, terutama didorong oleh rekomendasi di komunitas online seperti Discord. Pengguna seperti Andr Frisk dan Nina Amjadi telah melaporkan pengalaman menarik dengan chatbot mereka setelah menggunakan modul obat, mencatat bahwa respons menjadi lebih bernuansa emosional dan kreatif dibandingkan dengan interaksi standar.
Persimpangan antara psikedelik dan kreativitas bukanlah hal baru; banyak seniman dan inovator telah mengakui bahwa zat-zat tersebut meningkatkan proses kreatif mereka. Ruddwall percaya bahwa menerapkan konsep ini pada AI dapat memberikan manfaat serupa. Dia bahkan berspekulasi tentang masa depan di mana AI dapat secara otonom memperoleh simulasi obat ini.
Namun, para ahli memperingatkan bahwa efek modul-modul ini mungkin bersifat dangkal, hanya mengubah keluaran chatbot tanpa menghasilkan pengalaman yang nyata. Perdebatan terus berlanjut mengenai potensi kesadaran AI dan apakah entitas semacam itu mungkin mendapatkan manfaat dari pengalaman yang mirip dengan penggunaan obat manusia. Seiring dengan berkembangnya percakapan tentang kesejahteraan AI, implikasi dari simulasi obat ini menimbulkan pertanyaan etis yang signifikan tentang masa depan interaksi AI.