Kecerdasan buatan (AI) telah berkembang pesat dari inovasi kecil menjadi elemen fundamental dari layanan keuangan kontemporer. Di berbagai sektor seperti perbankan, pembayaran, dan manajemen kekayaan, AI kini diintegrasikan ke dalam alat untuk perencanaan anggaran, deteksi penipuan, Know Your Customer (KYC), Anti-Pencucian Uang (AML), dan keterlibatan pelanggan. Koperasi kredit adalah bagian dari evolusi fintech yang lebih luas ini, menghadapi tekanan teknologi yang serupa sambil beroperasi di bawah model koperasi yang menekankan kepercayaan dan keselarasan komunitas.
Perilaku konsumen menunjukkan bahwa AI sudah mempengaruhi keputusan keuangan sehari-hari. Penelitian dari Velera menunjukkan bahwa 55% konsumen menggunakan alat AI untuk perencanaan keuangan atau anggaran, dengan 42% merasa nyaman menggunakan AI untuk transaksi keuangan. Tingkat adopsi sangat tinggi di kalangan individu yang lebih muda, dengan 80% Gen Z dan milenial muda menggunakan AI untuk perencanaan keuangan dan menyatakan kenyamanan dengan kemampuan AI. Tren ini mencerminkan gerakan yang lebih luas di sektor fintech, di mana alat keuangan pribadi yang didorong oleh AI dan antarmuka percakapan semakin umum.
Koperasi kredit menghadapi tantangan ganda dalam lanskap ini. Harapan anggota dibentuk oleh platform digital dan aplikasi dari perusahaan fintech besar, sementara bank digital yang lebih besar menerapkan AI dalam skala besar. Survei oleh CULytics mengungkapkan bahwa meskipun 42% koperasi kredit telah menerapkan AI di area operasional tertentu, hanya 8% yang menggunakannya di berbagai fungsi bisnis. Kesenjangan antara harapan pasar dan kemampuan institusi ini mencirikan fase adopsi AI saat ini di sektor keuangan koperasi.
Meskipun ada tantangan, koperasi kredit menikmati tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi. Temuan Velera menunjukkan bahwa 85% konsumen melihat koperasi kredit sebagai sumber nasihat keuangan yang dapat diandalkan, dan 63% anggota akan menghadiri sesi edukasi tentang AI jika ditawarkan. Ini memposisikan koperasi kredit untuk membingkai AI sebagai alat nasihat yang meningkatkan hubungan yang ada dengan anggota.
Seiring AI semakin terintegrasi dalam layanan keuangan, koperasi kredit harus menavigasi isu kepercayaan dan keterjelasan, terutama di lingkungan yang diatur di mana keputusan harus dibenarkan kepada anggota. CULytics menyoroti bahwa 83% koperasi kredit melihat integrasi dengan sistem warisan sebagai hambatan signifikan untuk adopsi AI. Untuk mengatasi tantangan ini, koperasi kredit mungkin perlu mempertimbangkan kemitraan dengan perusahaan fintech atau organisasi layanan untuk memfasilitasi integrasi dan penerapan teknologi AI yang lebih lancar.