Dalam beberapa minggu terakhir, peritel terkemuka seperti Etsy, Target, dan Walmart telah meningkatkan komitmen mereka terhadap perdagangan berbasis AI, membentuk kemitraan dengan platform AI pihak ketiga seperti Gemini milik Google dan Copilot milik Microsoft. Perubahan ini memungkinkan konsumen untuk membeli produk langsung melalui antarmuka percakapan AI, menandai evolusi signifikan dalam ritel online.

Amazon dan Walmart juga sedang mengembangkan asisten AI mereka sendiri, yang dinamakan Rufus dan Sparky, untuk meningkatkan interaksi pelanggan dengan merek mereka. Tren ini, yang disebut sebagai AI agensif, dipandang sebagai momen penting untuk keterlibatan langsung dengan konsumen, dengan para ahli seperti Kartik Hosanagar dari Wharton School menyarankan bahwa ini dapat mengganggu ritel dengan cara yang mirip dengan dampak internet.

Menurut laporan Belanja Liburan 2025 dari Adobe, lalu lintas berbasis AI ke situs e-commerce AS melonjak sebesar 758% tahun ke tahun pada November 2025, dengan Cyber Monday menyaksikan peningkatan 670% dalam kunjungan yang dirujuk oleh AI. Para peritel optimis tentang potensi untuk keterlibatan konsumen yang lebih dalam, karena Katherine Black dari Kearney mencatat bahwa lebih banyak pembeli kemungkinan akan mengandalkan AI untuk berbagai kebutuhan pembelian.

Namun, transisi ini datang dengan pengorbanan yang signifikan. Analis industri memperingatkan bahwa melibatkan pelanggan melalui platform AI menimbulkan kekhawatiran tentang kepemilikan data dan risiko peritel kehilangan hubungan langsung dengan konsumen. Laporan Deloitte menunjukkan bahwa 81% eksekutif ritel percaya bahwa AI generatif dapat mengurangi loyalitas merek pada tahun 2027, karena wawasan konsumen yang berharga mungkin hilang jika transaksi terjadi di luar platform milik peritel.

CEO Google Sundar Pichai telah memperkenalkan alat perdagangan baru untuk Gemini, menekankan pentingnya kolaborasi dengan peritel. Namun, integrasi fitur seperti checkout instan ke dalam platform AI berisiko mengurangi pengalaman merek bagi peritel, yang berpotensi menjadikan mereka hanya sebagai operasi pemenuhan. Seiring industri berkembang, banyak eksekutif mengantisipasi pergeseran menuju interaksi belanja berbasis AI tunggal pada tahun 2027, yang secara fundamental mengubah cara peritel berinteraksi dengan konsumen.