OpenAI, Google, dan Anthropic semuanya telah meluncurkan kemampuan AI medis baru dalam beberapa hari satu sama lain bulan ini, menunjukkan lingkungan kompetitif daripada sekadar kebetulan. Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak ada dari alat-alat ini yang telah menerima izin sebagai perangkat medis untuk penggunaan klinis atau tersedia untuk diagnosis pasien secara langsung, meskipun klaim pemasaran menyarankan bahwa mereka dapat mengubah perawatan kesehatan.
OpenAI memperkenalkan ChatGPT Health pada 7 Januari, memungkinkan pengguna di AS untuk menghubungkan catatan medis mereka melalui kemitraan dengan berbagai platform kesehatan. Setelah itu, Google merilis MedGemma 1.5 pada 13 Januari, yang meningkatkan model AI medis terbuka untuk menganalisis pemindaian CT dan MRI 3D serta gambar histopatologi slide utuh. Anthropic juga ikut serta pada 11 Januari dengan Claude for Healthcare, yang memiliki koneksi yang mematuhi HIPAA ke database medis penting.
Ketiga perusahaan ini menghadapi tantangan serupa dalam alur kerja perawatan kesehatan, seperti tinjauan otorisasi sebelumnya dan pemrosesan klaim, menggunakan metode teknis yang sebanding tetapi berbeda dalam strategi pasar mereka. Setiap sistem menggunakan model bahasa besar multimodal yang telah disesuaikan dengan literatur medis dan dataset klinis, menekankan privasi dan kepatuhan regulasi sambil mendukung penilaian klinis daripada menggantikannya.
Strategi penerapan bervariasi secara signifikan di antara perusahaan-perusahaan tersebut. ChatGPT Health dari OpenAI adalah layanan yang ditujukan untuk konsumen dengan daftar tunggu untuk pengguna di luar wilayah tertentu, sementara MedGemma 1.5 dari Google tersedia sebagai model terbuka melalui program Health AI Developer Foundations. Sebaliknya, Claude for Healthcare dari Anthropic dirancang untuk integrasi perusahaan, menargetkan klien institusional daripada konsumen individu.
Meskipun ada perbaikan dalam kinerja benchmark di ketiga alat tersebut, masih ada kesenjangan signifikan antara hasil uji mereka dan penerapan klinis yang sebenarnya. Misalnya, Google melaporkan bahwa MedGemma 1.5 mencapai tingkat akurasi 92,3% pada benchmark penyelesaian tugas agen medis, peningkatan yang signifikan dari pendahulunya. Namun, lanskap regulasi untuk alat-alat AI ini tetap tidak jelas, karena tidak ada yang telah menerima izin FDA, dan masalah tanggung jawab seputar penggunaannya dalam pengaturan klinis masih belum terpecahkan. Ketidakpastian regulasi ini dapat menghambat adopsi teknologi ini dalam perawatan kesehatan, di mana kebutuhan akan inovasi mendesak tetapi harus seimbang dengan kehati-hatian.