Sektor kecerdasan buatan baru-baru ini beralih ke AI agensif, yang merujuk pada sistem yang dapat secara otonom melakukan tugas multi-langkah. Tren ini telah memicu diskusi signifikan di industri teknologi, terutama karena perusahaan-perusahaan Tiongkok memprioritaskan integrasi perdagangan daripada model dasar yang lebih disukai oleh perusahaan-perusahaan Barat.
Pemain utama seperti Alibaba, Tencent, dan ByteDance dengan cepat meningkatkan platform AI mereka untuk mendukung perdagangan agensif, bergerak melampaui AI percakapan sederhana ke sistem yang dapat mengelola seluruh proses transaksi, dari penemuan produk hingga pembayaran. Misalnya, Alibaba baru-baru ini memperbarui chatbot Qwen-nya untuk memfasilitasi penyelesaian transaksi langsung dalam ekosistemnya, yang mencakup platform seperti Taobao dan Alipay. Integrasi ini memungkinkan pengguna untuk melakukan lebih dari 400 tugas digital, memberikan rekomendasi yang dipersonalisasi dan memungkinkan pembayaran tanpa meninggalkan antarmuka chatbot.
Menurut Shaochen Wang, seorang analis riset di Counterpoint Research, transformasi dalam layanan komersial ini meningkatkan keterlibatan pengguna dan menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Pada bulan Desember, ByteDance juga memperbarui chatbot AI Doubao-nya untuk secara otonom mengelola tugas seperti pemesanan tiket, meskipun beberapa fitur dikurangi karena kekhawatiran privasi.
Presiden Tencent, Martin Lau, telah menunjukkan bahwa agen AI dapat menjadi bagian integral dari ekosistem WeChat, yang melayani lebih dari satu miliar pengguna dengan layanan pesan dan pembayaran. Fokus strategis ini menyoroti keunggulan Tiongkok dalam menerapkan AI agensif, karena ekosistem terintegrasi mereka mengurangi fragmentasi yang sering menghambat pesaing Barat.
Para ahli memprediksi bahwa munculnya AI agensif akan memiliki implikasi signifikan bagi perusahaan, karena sistem ini berkembang dari alat bantu menjadi agen otonom yang mampu mengeksekusi alur kerja yang kompleks. Sebuah laporan dari Fast Think Institute menunjukkan bahwa agen AI pertama yang melampaui 300 juta pengguna aktif bulanan dapat muncul pada tahun 2026, berpotensi menjadi asisten penting untuk pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, penyedia cloud Tiongkok yang lebih kecil juga mulai mendukung alat-alat ini, meskipun kekhawatiran biaya mendorong beberapa untuk menerapkan model harga langganan tetap.
Strategi yang berbeda antara perusahaan Tiongkok dan Barat mencerminkan struktur pasar yang lebih luas dan lingkungan regulasi. Sementara Tiongkok fokus pada integrasi domestik, perusahaan-perusahaan AS mengejar skala global. Perbedaan ini kemungkinan akan membentuk lanskap kompetitif di masa depan, dengan perusahaan-perusahaan AS seperti OpenAI dan Amazon menjelajahi jalur mereka sendiri dalam perdagangan agensif. Namun, kemampuan otonom dari sistem-sistem ini telah menimbulkan pertanyaan regulasi, terutama terkait dengan risiko keamanan dan privasi yang terkait dengan penggunaannya. Seiring dengan percepatan komersialisasi AI agensif di Tiongkok, ini menawarkan wawasan berharga bagi pengambil keputusan perusahaan global tentang bagaimana teknologi ini dapat mengubah akuisisi pelanggan dan dinamika kompetitif.