Amazon, pelopor dalam komputasi awan, memanfaatkan keahlian teknologinya untuk mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam berbagai aspek bisnisnya. Inisiatif AI terbaru perusahaan telah berkembang secara signifikan, bergerak melampaui chatbot sederhana ke sistem AI agen canggih yang mampu merencanakan dan melaksanakan tugas kompleks di berbagai proses. Pergeseran strategis ini sangat berdampak mengingat keterlibatan luas Amazon dalam infrastruktur awan melalui AWS, logistik, ritel, dan layanan pelanggan.
Pada awal 2025, Amazon membuat komitmen yang jelas terhadap AI dengan membentuk kelompok khusus di dalam AWS yang fokus pada AI agen. Komunikasi internal mengungkapkan bahwa kepemimpinan AWS melihat teknologi ini sebagai peluang bisnis multi-miliar dolar yang potensial, menekankan pentingnya sebagai platform dasar daripada sekadar fitur tambahan. Ini menunjukkan pergeseran strategis menuju integrasi AI secara mendalam ke dalam kerangka operasional perusahaan.
CEO Andy Jassy telah mengakui bahwa adopsi luas AI generatif dan sistem agen akan mengubah peran pekerjaan di dalam perusahaan. Ia menunjukkan bahwa meskipun beberapa kategori pekerjaan mungkin berkurang, yang lain diharapkan akan tumbuh seiring dengan otomatisasi tugas rutin. Pergeseran ini menyoroti sifat ganda dari dampak AI pada tenaga kerja, di mana peningkatan efisiensi dapat menyebabkan pengurangan dalam peran tertentu sambil menciptakan peluang baru dalam tata kelola AI dan desain alur kerja.
Kasus penggunaan AI Amazon sangat fokus pada alur kerja berbasis aturan dengan volume tinggi, yang penting untuk meningkatkan peramalan, logistik pengiriman, layanan pelanggan, dan manajemen produk. Perusahaan telah menerapkan inovasi berbasis AI di operasinya di AS, seperti meningkatkan akurasi lokasi pengiriman dan mengembangkan model peramalan permintaan yang canggih. Inisiatif ini menyoroti komitmen Amazon untuk memanfaatkan AI guna mengoptimalkan prosesnya dan meningkatkan pengalaman pelanggan.
Selain itu, asisten Rufus Amazon mencerminkan pendekatan perusahaan dalam mengintegrasikan AI ke dalam pengalaman berbelanja. Dengan memanfaatkan AI generatif dan agen, Rufus membantu pelanggan dalam menemukan produk, membandingkan opsi, dan membuat keputusan pembelian yang terinformasi. Antarmuka AI ini tidak hanya memperlancar proses berbelanja tetapi juga mempersonalisasi pengalaman berdasarkan riwayat dan preferensi pengguna. Saat Amazon terus mengembangkan kemampuan AI-nya, perusahaan bertujuan untuk menetapkan dirinya sebagai pemimpin dalam lanskap AI perusahaan, menetapkan preseden bagi perusahaan lain untuk mengikuti dalam memanfaatkan kekuatan teknologi AI.